
Lambung
adalah salah satu organ penting dalam tubuh. Fungsi utamanya bukan
hanya menggiling makanan agar menjadi lebih halus. Lebih dari itu,
lambung berfungsi membunuh kuman, bakteri maupun virus yang masuk
bersamaan dengan makanan. Karena ternyata 30-40% bakteri, kuman dan
kawan-kawannya masuk dalam tubuh kita bersamaan dengan makanan. Nah, apa
jadinya jika kita tidak memiliki pasukan beserta benteng pertahanan
terhadap pasukan ‘devil’ berupa kuman?
Fungsi Lambung
Fungsi
utama lambung dalam membunuh kuman ditugaskan kepada asam lambung.
Sesuai namanya, asam lambung memang bersifat asam. Kndisi keasamaannya
atau pH-nya sekitar 3. Suasana ini membuat hampir seluruh bakteri tak
berdaya. Alhasil, usus kita aman untuk mencerna makanan dan kita
terbebas dari penyakit seperti diare.
Selain berfungsi membunuh
segala bakteri dan virus, asam lambung juga berfungsi untuk memecah
makanan. Terutama makanan ‘berat’ atau yang memiliki komponen kimia yang
agak rumit, semisal daging dan makanan berprotein tinggi lainnya. Asam
lambung dibutuhkan tubuh, bersamaan dengan enzim yang dihasilkan oleh
lambung untuk mencerna makanan agar zat gizi bisa diserap tubuh dengan
sebaik-baiknya.
Gastritis
Namun,
fungsi dari asam lambung yang baik ini kadang menjadi kurang nyaman bagi
sebagian orang karena menderita penyakit maag atau gastritis. Gastritis
bisa diartikan dengan peradangan pada dinding lambung. Konsisi ini,
membuat dinding lambung tidak lagi bisa menahan kuatnya suasana ‘asam’
yang juga diproduksi oleh salah satu sel di dalam lambung tersebut.
Padahal dinding lambung didesain secara sempurna oleh Allah untuk bisa
menahan dahsyatnya asam lambung yang bersifat sangat keras tersebut.
Kondisi
berkurangnya atau tergerusnya dinding lambung, membuat lambung menjadi
tidak kuat lagi terhadap asam lambung. Sehingga perut terasa panas
bahkan sampai ke detak jantung tidak normal atau ‘heartburn’.
Penyebab Gastritis
kondisi
gastritis, oleh ilmu kedokteran konvensional bisa disebabkan oleh
beberapa factor. Mulai dari virus, bakteri sampai adanya gangguan
autoimunitas. namun, kebiasaan makanan dan kebiasaan kita sehari-hari
pun ternyata juga bisa menyebabkan gastritis. Beberapa penyebab
gastritis yang terkait dengan pola makan dang gaya hidup diantaranya:
merokok, konsumsi kopi atau makanan yang mengandung zat bersifat asam,
konsumsi jus buah yang ditambah asam sitrus, konsumsi alcohol, bahkan
konsumsi makanan yang terlalu banyak mengandung lemak juga bisa menjadi
factor penyebab gastritis. Karena semakin banyak lemak dan protein yang
harus dicerna lambung, semakin banyak juga asam lambung yang dibutuhkan
tubuh untuk mencerna makanan tersebut dengan baik.
Emosi dan Gastritis?
Secara
empiris, orang yang menderita gastritis merasakan kekambuhan ketika
muncul stress emosional maupun stress fisik (kelelahan). Apakah ini
benar ataukah hanya mitos? Ternyata, dalam sebuah jurnal yang
diterbitkan oleh American Journal Gastroenterology sejak tahun 1976,
setelah melakukan endoskopi terhadap sekitar 788 kasus gastrointestinal
atau pencernaan, sebanyak 53% pasien yang diteliti (sebelumnya tidak ada
riwayat dengan penyebab gastritis), memang memiliki masalah dengan
emosi yang cukup signifikan. Jurnal ini juga menyatakan bahwa stress
emosi mungkin berkontribusi dalam ketidaknormalan produksi asam lambung.
Melihat
referensi ilmu kedokteran lainnya, yaitu ilmu kedokteran China ternyata
juga menyatakan hal yang sama. Bahwa ketidakseimbangan emosi, utamanya
marah memang menjadi penyebab atau pemicu ketidakseimbangan produksi
asam lambung dan juga memicu gastritis.
Gejala Gastritis
Beberapa kondisi yang bisa menjadi gejala sahabat menderita gastritis adalah:
- Dyspepsia atau perut terasa sebah
- Heartburn (rasa panas di area dada sering diiringi detak jantung tidak teratur)
- Nyeri sekitar abdomen atau perut
- Cegukan
- Nafsu makan berkurang
- Mual
- Mntah, bahkan bisa sampai muntah darah
- Kotoran atau BAB berwarna gelap
Antasida, baikkah?
Golongan
obat yang sering digunakan untuk mengatasi masalah asam lambung adalah
antasida. Antasida adalah obat yang berfungsi untuk menormalkan asam
lambung. Kelompok obat ini terdiri dari tiga jenis bahan utama yaitu
magnesium, kalsium dan garam aluminium. Obat jenis antasida ini sering
digunakan dalam bentu obat bebas karena memiliki sifat cepat bereaksi
nya yang cepat namun durasinya hanya pendek. Obat ini baiknya memang
digunakan untuk kondisi yang sementara saja.
Penggunaan obat
antasida dalam waktu yang lama ternyata juga bisa menimbulkan efek
samping. Bahkan Yvonne Romero, M.D. ahli penyakit pencernaan dari Mayo
Clinic tidak menganjurkan penggunaan antasida dalam jangka waktu lama.
Jika antasida yang dikonsumsi adalah yang mengandung kalsium, efek
samping yang bisa dialami diantaranya konstipasi atau sembelit bahkan
sampai gangguan fungsi ginjal. Jenis magnesium, bisa menyebabkan diare
dan yang mengandung aluminium berhubungan dengan kondisi tulang yang
kurang kuat.
Selian antasida ada dua jenis obat lain yang sering digunakan yaitu
H2 blockers, berfungsi mengurangi sekresi asam lambung seperti Cimetidine dan ranitidine. Jenis obat untuk gastritis lainnya adalah p
roton pump inhibitors, berfungsi menurunka produksi asam lambung. Beberapa contohnya adalah Esomeprazole dan Lansoprazole.
Selain
efek samping oleh bahan antasida tersebut, dinetralkannya asam lambung
membuat lambung menjadi tidak bisa bekerja sesuai fungsi normalnya.
Karena jika asam lambung sudah berada pada angka di atas 3, artinya
tidak lagi asam sesuai standartnya bisa memicu gangguan pencernaan
lainnya. Pertama, bakteri dan virus bisa jadi lolos dari ‘serbuan maut’
asam lambung. Selanjutnya, kondisi pH yang tidak lagi normal membuat
lambung lebih banyak memproduksi asam lambung agar tetap menjadi 3 jika
lambung sedang ditugaskan mencerna makanan seperti daging. Karena,
dengan pH yang lebih tinggi dari biasanya, makanan menjadi tidak dicerna
dengan baik. Hal ini berdampak pada menurunnya penyerapan protein,
bahkan menimbulkan gas dan bisa menyebabkan ‘sampah’ makanan karena
tidak dicerna dengan baik.
Rendahnya keasaman lambung juga
berdampak pada menurunnya penyerapan beberap vitamin dan mineral seperti
zinc, zat besi, asam folat, vitamin A, vitamin B1, vitamin B5 dan
vitamin E. menurunnya keasaman lambung juga bisa menjadi penyebab
berkembangnya bakteri dan virus yang bisa berdampak sampai ke kanker
lambung.
Solusi Tepat dan Cermat
Jika
penggunaan obat jenis antasida memang kurang baik untuk lambung,
tentunya ada solusi yang lebih tepat bukan? Manajemen pola makan dan
pola hidup menjadi pilihan pertama bagi sahabat yang mengalami
gastritis. Beberapa tips berikut boleh sahabat praktikkan untuk
manajemen gastritis:
- Konsumsi makanan mengandung flavonoid
untuk menghambat pertumbuhan bakteri H. pylori yang tahan tinggal
dalam lambung seperti apel, bawang putih, bawang merah atau bawang
Bombay.
- Konsumsi makanan mengandung antioksidan yaitu sayuran dan buah
- Konsumsi makanan tinggi kalsium dan vitamin B seperi kacang almond, kacang-kacangn, sayuran hijau, rumput laut.
- Hindari makanan dengan proses rafinasi seepri roti putih dan gula pasir.
- Konsumsi daging rendah lemak, ikan laut dalam, tahu dan kacang-kacangan.
- Kurangi
atau bahkan hindari asam lemak trans yang secara komersial
didapatkan pada makanan yang dipanggang seperti cookies, cracker,
cake, kentang goring, donat makanan diproses dan margarine.
- Hindari
minuman yang mengiritasi dinding lambung atau meningkatkan
produksi asam seeprti kopi (tanpa atau dengan kafein), alcohol dan
minuma berkarbonasi (soda).
- Minum air putih 6-8 gelas perhari
- Hindari makanan pedas seperti cabai. Hindari merica dan pala juga untuk sementara waktu
- Minum perasan air jeruk nipis dengan segelas air putih hangat di pagi hari..
- Redakan stress
- Konsumsi herbal seperti V-natur untuk mendinginkan lambung
Akupuntur Bisakah?
Akupuntur,
salah satu pengobatan komplementer yang sudah diakui WHO memiliki sudut
pandang sendiri dengan penyakit yang satu ini. Penyebab utama yang
ditekankan orang yang memiliki gastritis adalah emosi. Sama seperti yang
telah ditliti secara ilmiah pada penjelasan sebelumnya. Makanan yang
berlemak juga turut menjadi penyebab munculnya gangguan ini.
Lalu
apakah akupuntur efektif untuk menuntaskan masalah gastritis maupun
gangguan asam lambung? Dalam sebuah kumpulan jurnal penelitian yang
dilakukan oleh Shanghai Research Institute of Acupuncture and Meridian
di Shanghai, China yang melibatkan sekitar 5325 subjek, menyatakan
bahwa, efektivitas akupuntur untuk terapi gastritis adalah 94,4%.
Badan
kesehatan dunia, WHO juga sudah merekomendasikan akupuntur sebagai
salah satu terapi yang efektif untuk gastrtitis. Lalu, berapa kali
terapi akupuntur sampai seseorang dinyatakan sembuh? Hal ini tentu saja
tergantung dari tingkat keparahan sakit setiap pasien. Terapi yang
disarankan dari RSH adalah seitar 5 – 8 kali terapi. Selain itu,
diharapkan juga melakukan terapi pola makan dan pola hidup yang lebih
baik lagi. Dengan demikian, kualitas kesehatan dan kualitas hidup pun
bisa lebih baik lagi dengan terbebas dari gastritis dan penyakit
gangguan asam lambung.
Rumah Sehat Holistik Jogja
Gang Sunan Muria, Jalan Damai, Jalan Kaliurang km 8,5
0878 3966 0590/0274-851 6868
www.rumahsehatholistik.com
www.putriherbal.com
www.akupunturjogja.blogspot.com
Silakan
share jika artikel ini sangat bermanfaat menurut Anda dan bisa membantu
sahabat dan orang yang Anda kasihi untuk lebih sehat dan lebih
produktif tanpa gastritis.
Hastrin Hositanisita, S.Gz
PROMO BEKAM DAN AKUPUNTUR GASTRITIS
1-14 September 2013
Hanya 80.000
Reservasi dan informasi: 0878 3966 0590/0274-851 6868